SeputarJombang.com– Puluhan buruh di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, memilih turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan mereka pada peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day, Kamis (1/5/2025) siang. Aksi unjuk rasa ini digelar sebagai bentuk protes atas ketimpangan yang masih dialami para pekerja, sekaligus kritik terhadap cara pemerintah daerah memperingati momentum tersebut.
Alih-alih mengikuti kegiatan seremonial yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang, seperti jalan sehat dan hiburan musik dangdut, para buruh justru berkumpul di depan kantor DPRD Jombang sambil membawa atribut demonstrasi. Mereka bergantian berorasi dari atas mobil komando.
“Kita tidak butuh joget dan hadiah. Hari Buruh bukan panggung hiburan. Ini adalah momentum untuk menyuarakan nasib buruh yang kian terpinggirkan,” kata Hadi Purnomo, Wakil Ketua Gabungan Aliansi Jombang Peduli (GAS JP), dalam orasinya.
Hadi, yang juga Ketua Serikat Buruh Playwood Jombang (SBPJ), menilai acara seremonial yang digelar Pemkab justru menutupi realitas pahit yang dihadapi pekerja. Ia menyebutkan, banyak kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak dan pelanggaran upah yang hingga kini tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah maupun aparat penegak hukum.
“Laporan sudah kami sampaikan ke Disnaker dan instansi terkait, tapi nyaris tidak ada respons. Padahal di lapangan, banyak buruh kehilangan pekerjaan tanpa kejelasan,” ujarnya.
Berdasarkan catatan GAS JP, hanya sekitar 30 persen perusahaan di Jombang yang membayar upah sesuai dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK). Selebihnya masih memberlakukan sistem kerja borongan dan harian dengan bayaran Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per hari, jauh di bawah standar UMK yang berlaku.
“Ini mencerminkan wajah buram ketenagakerjaan kita. Hari Buruh seharusnya menjadi ajang refleksi dan perbaikan, bukan perayaan semu,” tegas Hadi.(*)
Penulis : Dandy Angga












