Ngoro, SeputarJombang.com – Bulan Suro atau Muharram menjadi berkah tersendiri bagi penjual bubur suro di Jombang, Jawa Timur.
Seperti yang di rasakan Atik Maria Ningsih (42) penjual bubur suro di Desa Sidowarek, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Ia menekuni usaha bubur suro dari tahun 2018, dan sampai sekarang masih bertahan.
Sejak subuh, Atik bersama keluarganya sibuk menyiapkan pesanan bubur suro di dapur sederhana miliknya. Setiap bulan Suro atau Muharram, bubur suro buatannya selalu banyak pesanan.
“Kalau Suro begini, kami nyaris nggak ada waktu istirahat. Pesanan datang terus, ada yang untuk keluarga, ada yang untuk acara kampung. Awal 1 Suro kemarin sudah kirim 500 porsi. Menjelang 10 Muharram ini, sehari bisa sampai seribu porsi,” kata Atik kepada SeputarJombang.com, Jumat (5/7/2025) siang.
Baca Juga : Menjelang Bulan Suro, Jasa Cuci Pusaka di Jombang Banjir Orderan
Diungkapkan Atik Maria Ningsih, baginya bubur suro bukan sekedar ladang rezeki Lebih dari itu, ia merasa turut menjaga warisan tradisi Jawa yang penuh nilai luhur.
“Setiap sendok bubur yang disajikan, katanya, adalah doa dan harapan baik yang dikirimkan kepada sesama,” ungkapnya.
Seporsi bubur suro racikan Atik hanya dibanderol dengan harga Rp 11.000 ribu, tak heran jika banyak yang memesan dalam jumplah besar. Atik bahkan harus melayani pengiriman ke luar kota, seperti Mojokerto dan Kediri.
“Kalau pas puncaknya, omzet sehari bisa Rp5 juta sampai Rp7 juta. Alhamdulillah, sebulan bisa Rp60 juta sampai Rp80 juta,” tuturnya
Baca Juga : Ditolak Nikah Pacarnya, Pemuda di Mojoagung Jombang Nekat Nyebur ke Sumur
Susilowati (47), salah satu pelanggan setia bubur suro buatan Atik, mengaku tak pernah absen memesan bubur suro setiap tahun. Bagi keluarganya, sajian ini bukan sekedar makanan, tapi juga doa untuk keselamatan.
“Rasanya khas, lengkap, dan ada makna tersendiri. Kami pesan untuk tasyakuran, supaya keluarga selalu diberi selamat,” singkatnya memungkasi.(*)
Editor : Dandy Angga












