SeputarJombang.com – Sejumlah petani penggarap dan buruh tani di Jombang kini mulai menaruh harapan pada koperasi. Bukan tanpa alasan, gagasan ini muncul di tengah sulitnya akses mereka terhadap bantuan pemerintah. Dorongan itu datang dari Anggota DPRD Jawa Timur, Wiwin Sumrambah, yang menyebut koperasi bisa jadi solusi konkret, bukan sekadar janji.
Saat menggelar reses di Desa Diwek, Kecamatan Diwek, Jombang, Minggu (29/6/2025), Wiwin mengungkapkan bahwa koperasi adalah upaya nyata untuk menjawab keresahan para petani kecil yang selama ini terpinggirkan dari program bantuan.
“Dari awal saya sudah janji, kalau terpilih jadi anggota DPRD, saya harus mewakili teman-teman yang tidak dapat akses bantuan pemerintah. Dan koperasi ini jalannya,” kata Wiwin kepada wartawan.
Wiwin yang juga aktif di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) menegaskan, dirinya memang fokus pada bidang pertanian, peternakan, dan perkebunan. Ia paham betul persoalan yang dihadapi petani penggarap dan buruh tani di lapangan.
“Banyak kelompok tani yang tidak tergabung di gapoktan. Akhirnya, mereka tidak tersentuh bantuan. Maka solusinya, ya kita bentuk koperasi, supaya mereka bisa terwadahi,” jelasnya.
Namun Wiwin menekankan, koperasi bukan hanya didirikan demi mengejar bantuan. Lebih dari itu, koperasi diharapkan menjadi alat perjuangan bersama untuk mengatasi kemiskinan.
“Bantuan itu bonus. Tujuan utamanya bagaimana kita bersama-sama belajar mengentaskan kemiskinan, mensejahterakan diri sendiri lewat usaha bersama di koperasi. Dan bukan koperasi simpan pinjam, ya,” ujar politisi PDI Perjuangan itu.
Baginya, semangat koperasi harus lahir dari masyarakat sendiri. Bukan program yang datang dari atas, lalu dipaksakan.
“Koperasi itu harus bottom up. Harus muncul dari bawah, sesuai kebutuhan mereka. Kalau dari atas, biasanya cuma formalitas, nggak jalan,” tegas Wiwin.
Wiwin tak menutup mata pada kenyataan banyak koperasi yang kolaps setelah berdiri. Ia menilai, ini terjadi karena koperasi dibentuk asal-asalan tanpa pendampingan. Karena itu, Wiwin memilih turun langsung. Pendampingan diberikan sejak awal proses pendirian hingga koperasi benar-benar berjalan mandiri.
“Saya kerja bareng Dinas Koperasi Kabupaten. Kita dampingi mulai dari pembentukan badan hukum sampai bagaimana mereka menjalankan koperasi. Sekarang sudah ada 18 koperasi yang terbentuk,” ungkapnya.
Wiwin memanfaatkan berbagai forum seperti reses dan sarasehan sebagai ajang pelatihan dan bimbingan teknis. Baginya, keberhasilan koperasi adalah proses panjang yang tak bisa serba instan.
“Berkoperasi itu butuh waktu. Nggak bisa sekali diarahkan lalu jadi. Pendampingan harus terus berjalan sampai mereka kuat dan mandiri,” pungkasnya.(*)
Penulis : Dandy Angga












